Jumat, 20 September 2013

Laporan Praktikum TBT Hortikultura Acara 1



ACARA I

PERSEMAIAN

A.    Pendahuluan

1.    Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris, oleh karena itu kegiatan pertanian banyak dilakukan. Kegiatan pertanian merupakan suatu kegiatan budidaya tanaman baik tanaman pangan, tanaman semusim, tanaman tahunan, tanaman perkebunan maupun tanaman hortikultura. Budidaya tanaman dimulai dari tahap penanaman, tetapi ada beberapa tanaman yang memerlukan persemaian sebelum ditanam agar pertanaman di lapang menjadi lebih baik. Tanaman yang akan dibudidayakan tidak semuanya perlu disemaikan terlebih dahulu sebelum ditanam di lapang. Persemaian hanya dilakukan pada beberapa tanaman saja, misalnya saja pada tanaman dengan biji yang kecil-kecil dan halus. Biji-biji yang halus akan sulit untuk lamgsung ditanam di lapang. Persemaian  perlu dilkukan agar lebih mudah ditanam dan lebih cepat untuk memenennnya karena sudah disemaikan terlebih dahulu.

Persemaian dapat digunakan pula untuk mengetahui kecepatan kecamhah dan daya kecambah suatu tanaman. Suatu benih tanaman memiliki kecepatan kecambah dan daya kecambah yang berbeda-beda. Persemaian dapat memperpendek umur tanaman di lapang dan dapat mempermudah saat menanam. Persemaian itu sendiri dapat dilakukan di sustu lahan maupun di dalam polibag. Oleh karena itu perlu adanya pengetahuan mengenai cara-cara persemaian maupun tanaman apa saja yang perlu disemaikan sebelum ditanam dimlapang.

2.    Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum acara I Persemaian ini adalah :

a.    Mengenal serta mempelajari cara-cara pembuatan persemaian.

b.    Menyemaiakan beberapa macam benih sayuran.

c.    Mengetahui efektifitas daya kecambah dan kecepatan kecambah pada sayuran.

B.     Tinjauan Pustaka

1.    Persemaian Tomat (Solanum lycopersicum)

Tanaman tomat merupakan salah satu komoditas hortikultura yang tergolong tanaman semusim (berumur pendek), karena hanya berproduksi satu kali dan setelah itu mati. Budidaya tanaman tomat memerlukan persyaratan tumbuh yang sesuai untuk hidupnya. Keadaan ekologi atau lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan perlu diperhatikan dengan baik. Tanaman tomat dapat tumbuh di berbagai ketinggian tempat, baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah, tergantung varietasnya (Cahyono 2003).

Berdasarkan tipe pertumbuhannya, tanaman tomat dibedakan atas tipe determinate dan indeterminate. Tanaman tomat bertipe determinate mempunyai pola pertumbuhan batang secara vertikal yang terbatas dan diakhiri dengan pertumbuhan organ vegetatif (akar, batang daun), sedangkan tomat bertipe indeterminate mempunyai kemampuan untuk terus tumbuh dan tandan bunga tidak terdapat pada setiap buku serta pada ujung tanaman senantiasa terdapat pucuk muda. Bunga tanaman tomat berjenis dua dengan lima buah kelopak berwarna hijau berbulu dan dua buah daun mahkota (Tugiyono 2002)

Tomat termasuk tanaman perdu semusim, berbatang lemah, daun berbentuk segi tiga, bunga berwarna kuning atau hijau di waktu muda dan kuning atau merah di waktu tua, serta berbiji banyak. Tanaman tomat dapat tumbuh baik di dataran tinggi sampai dataran rendah pada ketinggian tempat 0 sampai dengan 1250 m di atas permukaan laut. Tomat dapat tumbuh di lahan basah/sawah maupun lahan kering/tegalan bergantung pada varietas yang ditanam. Suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah sekitar 23 ºC pada siang hari dan 17 ºC pada malam hari (Villareal 1980).

Tanaman tomat merupakan tanaman yang bisa tumbuh disegala tempat, dari daerah dataran rendah sampai daerah dataran tinggi (pegunungan) untuk pertumbuhan yang baik. Tanaman tomat membutuhkan tanah yang gembur, kadar keasaman pH antara lain 5-6, tanah sedikit mengandung pasir, dan banyak mengandung humus. Tanman tomat jua membutuhkan pengairan yang teratur dan cukup mulai tanam sampai tanaman mulai dari panen (Irfandri 1999).

Benih tomat harus disemai dulu sebelum ditanam. Persemaian dilakukan didalam kotak pesemaian (tray), media persemaian   adalah campuran tanah, arang sekam, dan pupuk kandang kuda dengan perbandingan 1:1:1. Benih ditanamkan kedalam kotak pesemaian (tray), benih dipelihara hingga umur 25-30  hari setelah semai. Beberapa persyaratan cara pelaksanaan pesemaian yang baik adalah :

a.         Langsung ditanam di tempat yang tetap.

b.         Tempat menyemai berupa bedengan khusus, diberi atap peneduh untuk   mencegah   curahan hujan jangan sampai merusak benih yang masih lemah.

c.         Tempat pesemaian harus aman dari gangguan binatang.

d.        Penyiraman dilakukan dengan menggunakan Hand Sprayer.

e.         Sebaiknya tanaman baru dipindahkan ke tempat penanamannya di lapang setelah cukup kuat.

f.          Ada baiknya apabila bibit terlebih dahulu dipindahkan ke polibag, menunggu saat ditanam di tempat penanamannya.

(Hernanto 1996)

2.    Persemaian Cabai (Capsicum annum. L)

Capsicum annuum L atau cabai merupakan tanaman hortikultura semusim yang mempunyai nilai ekonomi. Belakangan ini produksi cabai terus meningkat terutama di negara-negara berkembang dan yang sedang berkembang. Cabai termasuk komoditas hortikultura bernilai ekonomi yang dapat dikonsumsi baik sebagai rempah maupun untuk sayuran. Permintaan cabai di Indonesia diproyeksikan meningkat setiap tahunnya sehingga impor harus dilakukan kalau produksi dalam negeri tidak dapat terpenuhi (Barany et al. 2001).

Salah satu varietas cabai yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah cabai merah keriting. Perbaikan varietas cabai merah keriting seperti ketahanan terhadap penyakit dapat dilakukan melalui aplikasi teknologi mutasi dan teknik kultur jaringan sehingga akan memberikan nilai tambah untuk program pemuliaan, terutama dalam usaha meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi cabai secara optimal. Salah  satu metoda dalam kultur jaringan yang banyak digunakan untuk menunjang kegiatan pemuliaan tanaman adalah kultur antera. Tanaman haploid ganda yang dihasilkan dari kultur antera  dapat mencapai homozigot pada generasi kedua. Hal ini akan mempersingkat waktu  seleksi jika dibandingkan dengan pemuliaan secara konvesional disamping evaluasi karakter kuantitatif yang dapat dipercepat sehingga lebih menghemat waktu dan tempat (Kasha et al. 2003).

Cabai (Capsicum sp.) merupakan sayuran dan rempah paling penting di dunia. Genus Capsicum berasal dari dunia baru, spesies C. annuum dari Meksiko dan spesies lain (C. frutescens, C.baccatum, C. chinense, dan C. pubescens) dari Amerika Selatan. Pedagang Portugis dan Spanyol, mengintroduksikan cabai ke Asia pada abad ke-16, dan spesies cabai pedas tersebar paling luas di Asia Tenggara. Lebih  dari 100  spesies  Capsicum telah diidentifikasi.   Lima   spesies  di antaranya  telah  dibudidayakan,  yaitu C.  Annuum, C. chinense, C. frutescens, C. pubescens, dan C. baccatum. Klasifikasi spesies-spesies ini didasarkan pada karakter morfologi, terutama morfologi bunga. Cabai dalam bentuk kering biasanya digunakan sebagai bumbu dapur, dengan rasa dan aroma spesifik yang disebabkan oleh kandungan capsaicin alkaloid  didalamnya. Pada cabai terkandung beberapa vitamin seperti B1, B2, C dan P yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan sayuran lainnya. Dewasa ini tanaman cabai sudah ditanam dihampir seluruh bagian dunia. Kegunaannya baik sebagai bumbu masakan dan penghangat badan sangat diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat (Sanjaya 2002).

   Kestabilan produksi cabai dipengaruhi oleh serangan hama dan penyakit. Pemberantasan hama dan penyakit pada tanaman cabai merupakan salah satu pemeliharaan tanaman yang cukup penting. Banyak jenis hama, serangga dan kutu daun yang sangat membahayakan kesehatan tanaman dan bahkan dapat menggagalkan pembuahannya. Penggunaan pestisida adalah salah satu alternatif pencegahan namun pemberantasan dengan pestisida memerlukan tambahan biaya yang besar. Penggunaan varietas yang resisten adalah sangat ideal karena dapat menekan biaya budidayanya (Sunaryono 2000).

Cabai termasuk komoditas unggulan nasional dan sumber vitamin C. Pembuatan benih cabai dilakukan dengan penyeleksian benih yaitu dengan cara merendam biji cabai dalam air. Biji yang baik akan tenggelam sedangkan biji-biji yang keriput akan mengambang dan yang mengambang dibuang. Sebelum disemai, benih cabai rawit diperam dengan cara meletakkan benih di atas kertas merang lembab kemudian di tempatkan di germinator selama dua hari. Pemeraman ini bertujuan untuk mendapatkan benih-benih yang perkecambahannya seragam sebelum ditanam dalam persemaian (Kusandriani 1996).

3.    Persemaian Terong (Solanum melongena)

Terong merupakan tanaman sayuran yang sangat popular di Indonesia. Terong juga dapat tumbuh dimana-mana, baik di dataran rendah sampai dataran tinggi. Terjadinya keragaman terong itu sendiri disebabkan karena sebagian besar petani menggunakan benih dari hasil seleksinya sendiri (Hastuti 2007).

Terong sangat mudah dibudidayakan dan tidak perlu penanganan yang rumit. Terong dapat hidup didataran rendah dan tinggi dengan ketinggian 1-1.200 dpl dan suhu optimum 18 – 25 ºC. Proses pembentukan warna buah, terong memerlukan pencahayaan yang cukup. Terong tumbuh dengan baik di tanah lempung berpasir dan mengandung abu vulkanis dengan PH 5-6. Waktu penanaman terong yang tepat adalah pada awal musim kemarau (Hernanto 1996).

Benih terong sebaiknya disemaikan dulu sebelum ditanam pada lahan yang tetap. Pembuatan bedengan dan cara penyemaian terong tidaklah berbeda seperti perlakuan pada tomat. Kebutuhan benih terong berbeda dengan benih tomat. Lahan seluas 1 ha, diperlukan 500 g benih terong dengan daya kecambah 75%. Bibit terong berada di persemaian hingga berumur kurang lebih 1,5 bulan atau kira-kira telah berdaun empat helai. Bibit terong sudah siap untuk dipindahkan pada usia tersebu ke lahan penanaman (Taufik 2011).

Terong banyak macamnya antara lain terong gelatik yang sering disebut terong lalap. Terong kopek memiliki ciri buahnya yang panjang, terong craigi yang buahnya berbentuk bulat panjang ujung meruncing. Terong jepang dengan buah bulat dan panjang silindris, terong medan yang buahnya bulat panjang dan berukuran mini, terong bogor yang bentuknya bulat besar berwarna keputih-putihan (Sutarya 1995).

Terong pada umumnya diperbanyak dengan biji. Cara memperoleh biji terong yang benar-benar berkualitas dapat dilakukan dengan membeli ditoko pertanian. Setiap satu hektar dibutuhkan 150 sampai 500 gram biji atau tergantung luasan lahan yang akan dipakai. Biji terong sebelum ditanam di lapang perlu disemaikan terlebih dahulu dibedengan semai (Purseglove 1972).

C.    Metodelogi Praktikum

1.    Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum acara I Persemaian dilaksanakan pada hari Selasa, 2 Oktober 2012 di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2.    Alat dan Bahan

a.       Alat:

1)      Cethok

2)      Polibag

3)      Gembor

b.      Bahan

1)      Benih tomat

2)      Benih cabai

3)      Benih terong

4)      Tanah

5)      Pupuk kandang

3.    Cara Kerja

a.       Menyiapkan polibag dengan media campuran tanah dan pupuk kandang.

b.      Menyirami media tanam hingga kondisi lapang.

c.       Memasukkan benih kedalam polibag.

d.      Meletakkan polibag sesuai perlakuan (dengan naungan atau tanpa nauangan).

e.       Melakukan penyiraman tergantung kondisi media tanam.

f.       Melakukan pengamatan kecepatan kecambah dan daya kecambah.

Kecepatan Kecambah 

K = jumlah benih yang berkecambah pada hari ke-4

Y = jumlah benih yang dikecambahkan

Daya Kecambah 

D = jumlah benih yang berkecambah pada hari ke-7

Y = jumlah benih yang dikecambahkan

 D.    Hasil Pengamatan dan Pembahasan

1.    Hasil Pengamatan

Tabel 1.1 Pengamatan Perkecambahan Benih Tomat Ternaungi

Jenis Sayuran
KK (hari)
DK (hari)
1
2
3
4
5
6
7
Tomat
0
2
3
3
4
5
7

 Sumber : Laporan Sementara

Analisis Data :

a.       Kecepatan Kecambah =   


= 12%

b.      Daya Kecambah    = 


= 28%

Gambar 1.1 Perkecambahan Benih Tomat Ternaungi pada Hari ke -4
Gambar 1.2 Perkecambahan Benih Tomat Ternaungi pada Hari ke -7

2.    Pembahasan

Benih merupakan hal terpenting dalam suatu budidaya tanaman. Benih yang baik akan membuat tanaman akan tumbuh dengan baik pula. Benih yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih yang sudah terpilih baik dari kadar air yang cukup kering, warna dan bentuk yang normal serta ketidak cacatan benih yang disemaikan. Benih yang baik akan tumbuh dengan baik pada media tanam yang cukup akan nutrisi bagi proses perkecambahan benih tersebut. Media tanam yang akan digunakan dicampur dengan pupuk kandang, hal ini agar nutrisi yang dibutuhkan tanaman saat berkecambah tercukupi dan proses persemaian berjalan dengan baik.  Perbandingan tanah dengan pupuk kandang untuk media tanam adalah 2 : 1.

Tomat mempunyai akar tunggang yang tumbuh menembus  tanah dan akar serabut yang tumbuh menyebar kearah samping. Batang tanaman tomat berbentuk persegi empat hingga bulat, berbatang lunak tetapi cukup kuat, berbulu atau berambut halus dan diantara bulu-bulu tersebut terdapat rambut kelenjar. Batang tanaman berwama hijau. Daun tanaman tomat berbentuk oval bagian tepi daun bergerigi dan membentuk celah-celah yang menyirip serta agak melengkung kedalam. Daun berwama hijau dan merupakan daun majemuk. Daun majemuk pada tanaman tomat tumbuh berselang-seling atau spiral mengelilingi batang tanaman. Bunga tomat berukuran kecil, diameternya sekitar 2 cm dan berwama kuning cerah, kelopak bunga berjumlah 5 buah, merupakan bunga sempurna. Bentuk buah tomat bervariasi, tergantung varietasnya ada yang berbentuk bulat, agak bulat, agak lonjong dan bulat telur (oval). Buah yang masih muda berwama hijau muda, bila telah matang menjadi merah (Cahyono 1998).

Pengujian daya kecambah adalah mengecambahkan benih pada kondisi yang sesuai untuk kebutuhan perkecambahan benih tersebut, lalu menghitung presentase daya berkecambahnya. Persentase daya berkecambah merupakan jumlah proporsi benih-benih yang telah menghasilkan perkecambahan dalam kondisi dan periode tertentu. Bila daya uji kecambah benih memberikan hasil yang negative maka perlu diadakan usaha lain untuk mengetahui faktor apakah yang mengakibatkan kegagalan perkecambahan. Prosedur uji daya kecambah dilakukan dengan menjamin agar lingkungan menguntungkan bagi perkecambahan seperti letersediaan air, cahaya, suhu dan oksigen (Mugnisyah 1990).

Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa kecepatan kecambah yang dihitung pada hari keempat presentasenya adalah 12%. Daya kecambah yang dihitung pada hari ke tujuh presentasenya adalah 28%. Kecepatan kecambah dan daya kecambah tersebut tergolong rendah karena presentasenya tidak lebih dari 50%. Hal tersebut mungkin dikarenakan beberapa faktor dalam perkecambahan tidak terpenuhi.

Perkecambahan benih dapat dipengaruhi oleh faktor dalam yang meliputi: tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan penghambat perkecambahan, serta faktor luar yang meliputi: air, temperatur, oksigen, dan cahaya (Sadjad 1993). Benih yang dipanen sebelum mencapai tingkat kemasakan fisiologis tidak mempunyai viabilitas tinggi. Pada beberapa jenis tanaman, benih yang demikian tidak akan dapat berkecambah.  Hal ini diduga benih belum memiliki cadangan makanan yang cukup dan pembentukan embrio belum sempurna.

Jumlah air yang diperlukan untuk berkecambah bervariasi tergantung kepada jenis benih, umumnya tidak melampaui dua atau tiga kali dari berat keringnya. Temperatur optimum adalah temperatur yang paling menguntungkan bagi berlangsungnya perkecambahan benih.  Temperatur minimum/ maksimum adalah temperatur terendah/tertinggi saat perkecambahan akan terjadi. Terjadi kerusakan benih dan terbentuknya kecambah abnormal jika berada pada suhu di bawah temperatur minimum atau di atas temperatur maksimum (Agung 2001).

Proses respirasi akan berlangsung selama benih masih hidup.  Pada saat perkecambahan berlangsung, proses respirasi akan meningkat disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbon dioksida, air dan energi. Proses perkecambahan dapat terhambat bila penggunaan oksigen terbatas. Kebutuhan benih terhadap cahaya untuk berkecambah berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman.  Benih yang dikecambahkan pada keadaan kurang cahaya atau gelap dapat menghasilkan kecambah yang mengalami etiolasi (Soepomo 1968).

Perlakuan pada naungan akan mempengaruhi proses perkecambahan, karena beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan ada yang kurang maksimal. Persemaian yang berada di nauangan akan kekurangan pasokan cahaya matahari, sehingga temperaturnya juga kurang kondusif bagi perkecambahan. Jumlah air juga kurang terkontrol karena terkadang terkena air hujan padahal sebelumnya sudah disiram, sehingga kebutuhan air berlebihan. Benih yang ditanam di tempat terbuka (tanpa naungan) sebagian besar tidak tumbuh, hal ini dimungkinkan karena faktor yang mempengaruhi perkecambahan berlebihan misalnya saja cahaya matahari dan air, terutama air hujan terlalu banyak diterima oleh benih di tempat terbuka sehingga menghambat perkecambahan. Perkecambahan di naungan lebih baik daripada di tempat terbuka dapat dilihat dari jimlah benih yang dapat berkecambah lebih banyak pada benih yang dikecambahkan di naungan, hal ini karena faktor-faktor perkecambahan di naungan lebih baik daripada ditempat terbuka. Faktor-faktor perkecambahan tersebut agar benih dapat berkecambah dengan baik.

E.     Kesimpulan dan Saran

1.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa :

a.    Persemaian perlu dilakukan untuk tanaman tertentu agar tanaman berumur pendek dilapang.

b.    Media tanam yang digunakan dalam persemaian adalah tanah yang dicampur pupuk kandang, dengan perbandingan 2 : 1.

c.    Kecepatan kecambah benih tomat ternaungi adalah 12%, sedangkan daya kecambahnya 28%.

d.   Perkecambahan benih dipengaruhi oleh faktor dalam yang meliputi: tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan penghambat perkecambahan, serta faktor luar yang meliputi: air, temperatur, oksigen, dan cahaya.

e.    Perlakuan ternaungi dan tidak ternaungi mempengaruhi proses perkecambahan, hal ini berhubungan dengan faktor-faktor perkecambahan.

 2.    Saran

Saran untuk praktikum acara I Persemaian adalah :

a.    Sebaiknya tempat praktikum untuk persemaian dirapikan dan dibersihkan agar tertata rapi.

b.    Fasilitas keran air, selang air, gembor dan ember ditambah lagi agar dalam menyiram lebih mudah lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Agung SW 2001. Terong, Sayuran Prospektif yang Belum Digarap Intensif. Majalah Pertanian Abdi Tani 2 (6): 17-22.

Cahyono B 1998. Tomat – Usaha Tani dan Penanganan Pasca Panen. Yogyakarta: Kanisius.

               2003. Tomat Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Kanisius, Yogyakarta.

Barany I et al. 2001. Microspore-Derived Embryogenesis in Pepper (Capsicum    annuum l.): Subcellular Rearrangements Through Development. Biology Cell. 709–722p.

Hastuti 2007. Terung-Tinjauan Langsung ke Beberapa Pasar di Kota Bogor. USU Repository.

Hernanto F 1996. Ilmu Usahatani. Jakarta : Penebar Swadaya.

Irfandri 1999.  Pengaruh Lama Penggenangan terhadap Perkembangbiakan Nematoda Bengkak Akar (Meloidogyne sp.) pada Tanaman Tomat. Jurnal Natur Indonesia 11 (1): 75 – 79.

Kasha KJ and Malunszynski M 2003. Production of Doubled Haploids in Crop Plants. An Introduction, In Doubled Haploid Production in Crop Plants, A Manual. Kluwer Academic Publisher.

Kusandriani Y 1996. Pengaruh Naungan Kasa terhadap Hasil Beberapa Kultivar Cabai. Jurnal Hortikultura 6 (1): 10−16.

Mugnisyah W 1990. Pengantar Produksi Benih. Jakarta: Rajawali Press.

Purseglove JW 1972. Tropical crop. Monocotyledone. Ingman House, Burnt Mill, Harlow Essex, YK. 97-117p.

Sadjad S 1993. Dari Benih Kepada Benih. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia

Sanjaya L 2002. Keragaman ketahanan aksesi Capsicum terhadap antraknose (Colletotrichum capsici) berdasarkan penanda RAPD. Jurnal Bioteknologi Pertanian 7 ( 2): 37-42.

Soepomo 1968. Ilmu Seleksi dan Teknik Kebun Percobaan. Jakarta: PT Soeraengan.

Sunaryono H 2000. Budidaya Cabe Merah. Sinar Baru Algensindo, Bandung.

Sutarya R, Grubben G, Sutarno H 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. Gadjah Mada Univ. Press bekerja sama dengan Prosea dan Balai Penelitian Hortikultura Lembang.

Taufik M 2011. Analisis Pendapatan Usaha Tani Dan Penanganan Pascapanen Sayuran. Jurnal Litbang Pertanian 30 (2) : 67-72

Turgiyono  H 2002. Budidaya Tanaman Tomat. Yogyakarta: Kanisius.

Villareal RL 1980. Tomatoes in The Tropics. Westview Press Poulder. Colorado. 168 pp .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar